MORBID DUST– Death metal Eropa domisili Semarang



MORBID DUST – Death metal Eropa domisili Semarang

* Monday, June 2, 2008, 23:57
* Band
* 26 views
* 1 comment

Morbiddust terdengar eksistensinya pada tahun ‘90-an. Berawal dari saudara kembar Doddy “Cimplink” & Diddy “Complonk” yang ingin mencoba mengikuti kakaknya ( gitaris SYNDROME ) dalam bermusik di jalur music metal. Line up pertama adalah Complonk pada posisi Bass, cimplink sebagai Gitaris dan Nunu Tukang Genjot Pedal. Dari awal bermusik mereka membawakan lagu-lagu dari Terrorizer, Slayer, Kreator, Napalm Death. Pergantian personil dalam sebuah band adalah hal wajar, begitu juga dengan MD. Keluarnya Nunu membuat MD berpikir keras mencari pengganti drummer. Akhirnya bergabunglah Yuli sebagai Bassist dan Ary Keling mengganti posisi Nunu sebagai drummer. Tak berapa lama MD malang melintang di dunia metal, akhirnya mereka harus kembali bubar dikarenakan kesibukan para personil dalam berkegiatan belajar. Yah..sekolah adalah prioritas utama anak SMP. Pada akhir tahun 2004 Morbiddust rebirth setelah kurang lebih 10th vakum. Fresh From Hell line up baru yaitu Demit Kembar (Doddy “Cimplink & Diddy “Complonk” ) Guitar, AdiShalvo pada Bass, Kancil “The Unholy Mbachoter” sebagai Tukang Mbachot & Additional Drummer oleh Bangkit “Deranged Wheels”. Dalam perjalannan di berbagai gigs, MD slelalu meng-covers song dr Suffocation, Malevolent Creation,dan Dying Fetus. Yeah, Death Metal adalah idealis dr MD. Dari pengalaman covers song band diatas, akhirnya MD memutuskan membuat materi lagu sendiri. Akhir tahun 2005 MD memulai proses materi album dan pertengahan tahun 2006 materi selesai, MD pun mengeluarkan demo/promo “ …and the Worst Friend And Enemy Is But DEATH” Berisi 2 lagu ; 1. Hand Of God, 2. Don’t Let Uncle Sam Win. Demo/promo ini di sebar free ke teman, radio, label, zine. Respon positive yg kami terima cukup menggagetkan dan membuat kami bersemangat dalam berkarya. Awal tahun 2007 MD mencoba menawarkan materi ke label death metal, yaitu Rottrevore Recs, Jakarta. Mereka ternyata tertarik dengan 11 materi lagu yang ditawarkan, dan akhirnya MD join dengan Rottrevore Recs for The Next deadly Troop. Pada Juni 2008 Rottrevore Records mengeluarkan album pertama Morbiddust yang didistribusikan oleh Alfa Recs Jakarta. Debut album pertama Morbiddust berbandrol “War Is Forever” berisikan 11 lagu dalam Bahasa Inggris, bertemakan perang dan seluk beluk di dalamnya termasuk diantaranya, army, patriotism, zionisme, veteran, tawanan perang dan sebagainya. Berbagai perasaan tertumpah di 11 lyrics tersebut. Amarah, kesedihan, kebencian dan lain sebagainya. Dari berbagai sudut korban dan pelaku menurut subyektivitas dan pengetahuan yang terbatas dari Morbiddust. 11 lagu full aransemen perpaduan harmoni, skill, brutality dengan sound yang berat oldskull serta new school metal. Dan vocal growl yang remnya blong berisi tumpahan amarah seribu tahun. Grinding yang intense tak berkesudahan, soul lagu didapatkan dari 11 lagu yang variative dan tidak membosankan ini. “War Is Forever” adalah debut album yang tak kenal kompromi. Extreme Progresive Death Metal, but itu semua terserah anda yang menamai genre music kami. Yang pasti MD Loyal To DEATH METAL dalam berkreasi. KEEP SURVIVE & STRUGGLE! DEATH METAL RULEZ…!!!rizx


Siksakubur; Sajian Musik Deathmetal Dalam Medan Perang

* Wednesday, February 17, 2010, 5:15
* Resensi Album
* 589 views
* 6 comments

Artis: Siksakubur
Judul Album: Tentara Merah Darah
Rilis: 21 Februari 2010
Produksi: Fast Youth Records

SK_TENTARAMERAHDARAH

Rantaian tragedi dari sebuah kisah kekejaman para tentara yang berjuang dalam medan perang tersusun sudah secara sadis dan tuntas dalam album terbaru milik band deathmetal asal Jakarta yaitu Siksakubur, secara resmi album ini dirilis oleh Fastyouth Records pada 21 Februari 2010 dimana sebelumnya memang sudah terjadwal pada akhir bulan januari 2010 namun diundur secara tepat pada sasaran.

Berjumlah 11 track dalam album ini membuat kita semua harus dipaksa mendengarkan secara berulang-ulang dengan seksama dari kebrutalan sebuah band yang sudah terlalu banyak makan asam garam dalam kepuasan bermusik deathmetal, tuntunan dengan membaca syair-syair dari album ini serta mendengarkan setiap lagunya barulah mengerti jeritan kisah perlawanan tentara sparta melawan bangsa persia.

Totalitas semua personil dalam album kelima milik SK (Siksakubur) tercurahkan secara kejam tanpa nafas sedikitpun atas gempuran musik pendewasaan dari mereka (Siksakubur), beberapa tamu dalam album ini yang ikut andil seperti Rince “Gelap”, Reynold “In Memoriam”, Amri “Invictus”, serta dentingan Sitar dari Chaerul Yusuf dalam album ini adalah sebuah konsep yang tidak biasa dalam album ini melihat secara dari masing-masing sosok sudah menguasai dalam bidangnya.

Karakter vocal Prahari Mahardika yang tebal dan matang menjadi tombak seorang tentara yang berjuang habis-habisan serta gempuran Prama dengan menggebu-gebu dan harmonisasi permainan Andre Tiranda yang cantik namun tetap membius dengan riff-riff gitar penuh sayatan tajam membuat kuping ini teriris-iris dengan sadis sehingga darah yang mengalir dalam tubuh deathmetal Siksakubur tetap berkobar, simak beberapa lagu seperti Anak Lelaki Dan Serigala, Menanduk Melawan Tunduk, Pusara Bala Tentara, Neraka Setara Mata, Laskar Pelayan Kegelapan, dan Memoar Sang Pengobar merupakan pembantaian musik Siksakubur yang paling terganas dalam album ini.

Sajian musik deathmetal terbengis sepanjang karir Siksakubur, ditambah sentuhan dari Moel “Eternal Madness” sehingga membuat komposisi album deathmetal ini terasa harmonis secara teratur dan jelas. Penasaran dengan performa dan launching mereka? datang dan saksikan aksinya pada tanggal 21 Februari 2010 bertempat di Green Cafe, Kemang, jam 15.00 – selesai untuk bersama-sama berpesta dengan para pecundang.rizx


Kais Ingatan; Sepultura Live in Surabaya, June 1992

* Friday, January 29, 2010, 4:40
* Artikel
* 292 views
* 3 comments

SEPULTURA1992_SBY

Ini terjadi beberapa hari lalu. Serombongan anak muda, setidaknya dalam hitunganku berjumlah lima orang melompat ke dalam bis ekonomi tujuan Semarang ketika bis yang telah 2,5 jam kutumpangi itu bergerak meninggalkan Wonosobo. Pakaian yang mereka kenakan? Oh, kostum hitam-hitam, kaos dengan aneka macam logo, nama band, dan event music. Celana, tas, dan jaket yang mereka kenakan penuh dengan jahitan emblem nama-nama band metal dan juga nama-nama komunitas musik bawah tanah. Salah satu dari mereka menggunakan kaos hitam dengan logo Mayhem warna kuning, sebuah group blackmetal tua asal Norway. Tujuan mereka? Kondektur bertanya pada mereka mengenai hal ini, sudah barang tentu bukan dalam rangka beramah tamah, melainkan untuk menentukan ongkos yang mesti mereka bayar. Kudengar mereka menjawab “Semarang” dan salah seorang dari mereka mengulurkan dua lembar limapuluh ribuan warna biru. Dan ini terdengar jelas di telingaku, bukan karena aku sengaja nguping, namun karena aku duduk di bangku di samping bangku dimana tiga diantara mereka duduk berdampingan. Salah satu diantara mereka bertanya pada kondektur, apakah nantinya bis kami akan melalui GOR Tri Lomba Juang. Tak jelas benar apa jawaban kondektur atas pertanyaan ini, namun kurasa ia memberikan jawaban yang menentramkan.

Mahfumlah aku, bahwa mereka, anak-anak muda ini, hendak mendatangi event underground yang memang diadakan hari itu, Sabtu sore 23 January 2009 di GOR Tri Lomba Juang. Aku mengetahuinya, karena Halim Budiono, gitaris Cranial Incisored, mengundang melalui situs pertemanan Facebook untuk mendatangi event ini. Bersama dengan band Jogja lainnya Death Vomit, Cranial Incisored memang menjadi atraksi utama event di kota Lumpia tersebut. Namun sayangnya karena satu dan lain hal untuk invitasi ini terpaksa kuklik tombol “nee” alias tidak (aku mensetting Facebook-ku menggunakan bahasa Belanda), yang artinya aku tidak akan datang.

Mereka, sekawanan anak muda berpenampilan metal ini pun bercakap-cakap dan bercandaria sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menyalakan sigaret, dan padanya kupinjam pemantik api untuk pula menyalakan sebatang rokok filter yang kubawa (aku bukan perokok (lagi), namun kebetulan ada kusimpan sebatang sisa rokok kemarin hari, rokok yang dibeli dalam rangka social smoker). Setelah rokok berhasil menyala, pada pemuda yang meminjamkan korek gasnya aku bertanya, pertanyaan dalam dalam bahasa Jawa halus:

“Mau ke Tri Lomba Juang?”, pertanyaan yang segera diiyakannya. Padaku kemudian ia bertanya soal lokasi gedung tersebut. Dua kawannya yang duduk di samping ikut menengok memerhatikan. Aku sendiri tak mengetahui letak gedung olah raga ini, seumur-umur diri ini belum pernah ke sana. Walaupun sebagian besar hidupku dihabiskan di Jawa Tengah dan Semarang adalah ibukota provinsi ini, kota Semarang tetaplah menjadi kota yang asing bagiku. Terus terang aku lebih mengenal Melbourne atau Den Haag daripada Semarang. Namun padanya kukatakan bahwa Gedung itu pastilah mudah dijangkau. Asal kita turun di sub terminal Banyumanik, pasti akan ada angkot yang mengarah ke sana.

“Umurnya berapa Mas?”, aku bertanya kemudian, yang segera dijawab bahwa dia berumur 21 tahun. “Kelahiran 1989″ katanya menyambung ketika aku menebak tahun lahirnya. Aku menghitung dalam hati dan tak lama kemudian berkata, “Waktu panjenengan umur 3 tahun, saya juga seperti anda, pergi ke konser metal. Saya menonton Sepultura pada tahun 1992.” Wajah anak muda yang menggunakan celana doreng-doreng eks tentara dengan berbagai emblem berbau metal ini terkejut, dan menyambung “Di mana Pak?”. Dan kujelaskan padanya bahwa aku menonton di Surabaya. Salah seorang temannya yang duduk di samping separuh berteriak dan dalam Jawa ia berkata “Umurku waktu itu baru setahun”.

Kemudian baik dengan maksud menjawab pertanyaannya maupun atas inisiatifku sendiri kukatakan bahwa konser Sepultura adalah konser band metal asing yang pertama pernah diadakan di negeri ini. Kabar tentang akan adanya konser ini sendiri disambut dengan amat gembira oleh khalayak penggemar musik keras tanah air kala itu, terutama mereka yang fans berat Sepultura. Betapa tidak, band Brazil ini sedang dalam puncak kepopulerannya kala itu. Mereka belum lama merilis album Arise, album yang amat sukses dan membuat mereka semakin diakui dan ditakuti dalam kancah metal dunia. Di tanah air sendiri pada tahun-tahun Sepultura sering menjadi bahan liputan majalah HAI, yang pernah pula membandingkannya dengan Metallica. Kedatangan sebuah band raksasa asal negeri samba ini dalam konteks masa itu dimana show metal yang melibatkan artis bertaraf internasional belum pernah ada, ketika arus informasi belum sederas sekarang dan internet belum menjadi hal lumrah seperti sekarang ini tentu adalah suatu keluarbiasaan yang sukar dideskripsi dengan kata-kata. Apalagi show itu akan mengambil tempat di Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur yang pada masa itu masih dikenal sebagai Ibukota rock dan metal Indonesia, suatu predikat yang sekira satu dasawarsa ini tak lagi melekat dan telah disandang kota Bandung.

Diperkirakan 100,000 penonton menghadiri show dalam rangka Sepultura World Tour 1992 tersebut. Angka sebesar itu aku baca sendiri melalui situs resmi mereka Sepultura.com.br, suatu event metal yang tercatat sebagai salah satu pertunjukan metal terdahsyat yang pernah ada di muka bumi. Dalam film dokumenter Global Metal yang petikannya bisa disaksikan di situs Youtube, orang bisa menyaksikan testimoni Max Cavalera atas event ‘gila’ tersebut. Analisa singkat akan show ini dari sudut sosial politik juga disampaikan oleh Andre Tiranda, gitaris Siksakubur, sebuah band besar dari Jakarta.

Membuka show adalah band lokal Power Metal dan juga Mel Shandy and the Metal Boyz. Kendati penonton terus meneriakkan “Sepultura!..Sepultura!” (lagi-lagi dengan gaya suara menggeram), kedua band tersebut toh mampu ‘membeli waktu’ dan membuat penonton berjingkrak ria mengikuti berbagai nomor yang mereka bawakan. Power Metal yang diperkuat gitaris barunya Lucky menggebrak dengan lagu-lagu bertempo cepat seperti Timur Tragedi dan Satu Jiwa. Sementara itu tak banyak yang bisa aku ingat dari penampilan Mel Shandy dan Metal Boyz. Yang pasti keduanya boleh dikata terhitung sukses menjadi band pembuka.

Tiket untuk menonton pertunjukan itu adalah Rp.6,500,- (kalau ku tak salah ingat), dan bagi penonton yang bisa menunjukkan kupon diskon dari majalah HAI berhak mendapatkan potongan sebesar Rp. 1500. Harga tiket sebesar itu sudah termasuk satu bungkus rokok Djarum Super (perusahaan rokok yang menjadi sponsor pertunjukan ini), yang menurut ingatanku kala itu di pasaran seharga tak lebih dari Rp,500,-. Seingatku pula, banyak penonton yang tak merokok, atau perokok namun tak cocok dengan Djarum Super menukarkan rokok dengan sebotol air mineral yang dijajakan pedagang di tengah kerumunan massa. Aku sendiri tak memilih menukarkan rokok itu, dan tetap menyimpannya di kantung untuk kuhisapi sendiri.

Pemuda bercelana doreng sobek dengan berbagai emblem itu, dan juga kedua kawannya mulai takzim menyimak ocehanku. Pada mereka kukatakan bahwa angka 1,500 sebagai potongan tiket untuk ukuran kala itu cukup besar dan lumayan, terbukti banyak orang (termasuk aku) yang rela datang ke kantor perwakilan majalah HAI (atau Gramedia??) untuk sekedar menukarkan kupon. Itupun bukan berarti diskon atau karcis langsung kami dapatkan. Kami harus kembali lagi ke kantor perwakilan itu beberapa hari kemudian sekira satu hari menjelang hari H untuk mengambil tiketnya. Bisa dimaklumi, panitia tidak mau kecolongan membagikan karcis terlebih dahulu, daripada menanggung resiko dipalsunya karcis.

Konser Sepultura secara keseluruhan berlangsung ‘mengerikan’, bukan karena konser ini menyebabkan rusuh, namun karena jumlah penonton yang amat membeludak dan menggelora. Entah dari mana datangnya, puluhan ribu anak muda dengan kostum hitam-hitam dan berpenampilan dekil datang menyerbu Stadion Tambaksari. Banyak diantara mereka, termasuk aku ini, adalah penggemar yang rela menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan event yang barangkali hanya sekali dalam hidup dialami satu atau dua hari menjelang hari H. Dan kalau sudah begitu, kebersihan badan bukan menjadi hal yang penting dipikirkan. Mungkin pula penampilan kumal, dekil, dipadu dengan kostum hitam-hitam, rambut panjang adalah dress code setiap pertunjukan metal. Aku sendiri beruntung karena mempunyai banyak kerabat di Surabaya, dan bisa tinggal menginap beberapa hari sebelum pertunjukan berlangsung (kebetulan show diadakan bertepatan dengan musim libur sekolah). Walau untuk mencapai Surabaya perlu 12 jam perjalanan menumpang KA Ekonomi Purbaya (akronim dari Purwokerto-Surabaya; kini telah digantikan dengan KA Logawa) aku toh masih bisa memulihkan kesegaran badan sehingga tak perlu berpenampilan dekil, kucel, dan bau. Kostumku? Sebuah kaus Metallica hitam produk Gala Ria, sebuah produsen kaos band yang cukup terkenal kala itu. Celana? jeans merek Lea ketat biru muda yang telah kugambari sendiri dengan logo Testament, band San Fransisco pujaanku. Sepatu? Mulanya aku memakai sepatu kets yang sudah barang tentu aku lupa mereknya, tapi entah mengapa saat itu diri ini berubah pikiran untuk berganti memakai sandal saja, sebuah sandal merek Neckerman. Keputusan ini belakangan amat sangat kusesali, karena beberapa jam kemudian puluhan dam bahkan ratusan kali aku menjerit kesakitan ketika jari-jari kakiku terinjak sepatu dan kaki penonton yang lain. Satu hal yang sesungguhnya tak perlu kupelajari sampai mengalami sendiri: sungguh tidak tepat pula tidak patut datang ke konser metal dengan mengenakan sandal!

Sekitar jam 3 sore aku pergi berangkat dari rumah Paman di Jalan Dharmawangsa dengan menaiki bemo, sebutan masyarakat Surabaya untuk kendaraan umum.Tak sampai setengah setengah jam aku sudah tiba di pelataran stadion. Para metalheads sudah terlihat menyemut, dan mulai berteriak-teriak agar petugas membuka pintu stadion. “Buka….Bukaa!!” demikian diteriakkan dengan serempak bersahut-sahutan dan menggeram-geram sembari menggedor gedor pintu stadion. Tentu saja dengan suara tenggorokan yang dimirip miripkan layaknya suara vokalis death metal. Dan entah karena memang sudah waktunya atau memang sudah dijadwalkan, pintu stadion pun segera dibuka. Aku dan ratusan orang lainnya segera berlarian memasuki stadion untuk segera memilih tempat menonton paling depan. Kami kemudian duduk duduk di lapangan rumput, menanti dengan perasaan hati yang gembira meluap-luap. Panggung telah disiapkan dengan apik. Yang kuingat, sembari mematangkan segala sesuatunya di panggung diputarkan album Obituary The End Complete yang kala itu juga termasuk rilisan baru.

Ada satu pemandangan yang tak bakal kulupa, yakni bahwa saat itu kulihat seorang Ibu hamil yang juga menanti dengan sabar di deretan tong pembatas paling depan didampingi seorang laki-laki yang barangkali adalah suaminya. Aku tak tahu pasti bagaimana nasibnya beberapa jam kemudian ketika penonton sudah dalam keadaan chaos saling berbenturan badan larut dalam kebisingan yang dibawakan Sepultura dengan sejuta emosi di kepala. Sang bayi, seandainya lahir dengan selamat, pastilah kini berumur tak kurang dari 17 atau 18 tahun.

Ada sedikit ketegangan ketika Sepultura hendak memulai show. Pihak Sepultura ingin lampu stadion dimatikan seutuhnya. Sorot lampu stadion yang disisakan menyala terasa mengganggu tata lampu pangung. Sang MC mendaulat penonton untuk berteriak mematikan lampu sorot stadion, suatu ajakan yang kemudian dituruti penonton dengan teriakan serempak, namun usaha ini toh sia-sia. Sampai akhirnya karena terhimpit waktu Sepultura pun turun ke panggung. Max dengan kedua tangan menjulur ke arah penonton dan rambut panjangnya yang bergelombang keemasan terurai menyapa dengan ucapan “Selamat Malam” yang ketika diucapkan dengan suara serak paraunya terdengar “Selamat Maleeem.” Sebenarnya tak ingat pasti diri ini apakah sapaan ini diucapkannya ketika pertama kali membuka konser, tapi yang pasti seperti itulah apa yang pernah diucapkannya dan yang terdengar di telingaku.

Dan demikianlah, manakala Sepultura membuka lagu pertamanya sekira jam tujuh malam, slam dance, saling bentur antar penonton adalah hal yang tak terelakkan. Masih kuingat sedikit kelucuan bahwa aksi slam dance ini juga dimanfaatkan untuk saling beradu badan antara kaum remaja Malang dan Surabaya. Diantara gempuran musik yang dimainkan Max Cavalera dan gerombolannya di panggung, terdengar seruan agar massa Arema (akronim dari Arek Malang) berjongkok. Dan ketika jelas mana ‘kawan dan lawan’, kedua massa tadi saling bergempuran badan dan siapapun yang ada di dekatnya sekalipun dari neraka akan ikut terkena gempuran pula. Yang kuingat badan ini begitu pegal, begitu sakit sakit di tengah lautan manusia yang saling berhantaman badan dengan theme song lagu-lagu nan membakar yang dibawakan Sepultura secara live . Namun inilah metal show. Semua menyadari dan mengerti belaka, bahwa kami bukan di pertunjukan musik jazz atau country yang bisa dinikmati sambil minum segelas beer atau kopi sembari menari ceria dan senyam senyum menarik perhatian lawan jenis.

Adu badan, dan kelelahan akibat sudah terbakar dan mengeluarkan banyak energi di dua band pembuka sebelumnya membuat banyak diantara penonton mulai kecapaian ketika Sepultura membawakan separuh dari set list mereka. Salah satu penonton yang kecapaian tentunya diri ini. Lelah rasanya leher ini berheadbang mengikuti irama musik mereka, dari Beneath The Remains, Mass Hypnosis hingga Slaves of Pain dan Arise. Aku ingat betul bahwa bahwa nomor-nomor yang mereka bawakan di panggung dibawakan dengan lebih cepat dan keras daripada versi studio. Di Tambaksari itu pulalah mereka membawakan Orgasmastron, lagu baru yang diperkenalkan oleh Max dengan menggunakan bahasa Indonesia: “Ini Lagu Baru Kami…!” serunya . Max terkadang berkomunikasi dengan penonton sebelum membawakan lagu-lagunya, dan tentu saja tidak semua yang dikatakannya dapat didengar dan dimengerti oleh penonton. Namun untuk kalimat-kalimat sederhana seperti yang menyangkut judul lagu, sebagian dari penonton masih bisa menangkap. Ketika mereka akan membawakan Mass Hypnosis, Max berteriak “Back To The Arteries…” dan massa menyahut “Mass Hypnosis!”. Dan mereka menggebrak lagi, dengan cepat dan keras, dengan aksi headbang tiada henti membuat penonton kelojotan.

Aksi Sepultura benar-benar membakar dan chaotic, terutama bagi para penonton yang berada di depan panggung. Tentu bagi mereka yang menonton dari kursi tribun akan memiliki pengalaman dan kesaksian yang amat berbeda denganku. Mereka barangkali tak akan tahu keganasan slam dance dan bisingnya musik dari depan panggung yang amat berdekatan dengan speaker panggung yang memekakkan. Ini jugalah yang di kemudian hari menjadi pembicaraan mulut ke mulut bahwa konser Sepultura berlangsung rusuh. Bahkan sebagian penonton yang menyaksikan konser inipun meyakini demikian manakala menyaksikan gelombang manusia di lapangan rumput Stadion Tambaksari saling berhantaman dan berkejaran diantara gemuruh dan deru musik keras nan menghajar. Kalau boleh kuluruskan, apa yang dibilang sebagai kerusuhan itu sebenarnyalah aksi slam dance yang tak lain adalah bagian dari ekspresi dalam mengapresiasi musik thrashmetal.

Bagiku dan kurasa semua yang menyaksikan dari dekat, tentu sesuatu yang mengharukan dan membahagiakan ketika bisa melihat para personil Sepultura yang beraksi dari jarak dekat. Igor dibantu dengan satu kipas angin kecil untuk membantunya mengusir panas dan peluh dalam menghajar drum set merek Sonor miliknya. Max dengan gitar BC Rich putihnya, dengan tato di sekujur badan yang biasanya hanya dilihat di majalah kini ada di depan mata. Andreas Kisser dengan gitarnya (merek Jackson??) yang indah dengan hiasan daun-daun menjalar di sepanjang fret. Adapun Paulo nampak kalem dan sesekali berheadbang mendentumkan bass-nya.

Di depan panggung pula, kita terseret oleh desak dan hempasan serta benturan lautan manusia yang seolah kena sihir cepat dan kerasnya musik Sepultura. Tak ada perkelahian, tak ada kemarahan. Ini thrashmetal, bung!. Aparat yang dikerahkan berjaga berseragam doreng, para anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Dari kesatuan dan angkatan mana aku tak ingat betul. Salah satu dari mereka sangat kuingat bernama Blegur, seorang yang dari penampilan fisiknya aku duga berasal dari Papua atau setidaknya dari Indonesia bagian timur. Blegur dan rekan-rekannya yang berjaga di depan mengayun-ayunkan tongkat rotannya ketika penonton dirasa tak lagi tertib. Kasihan dirinya, dan tentu para aparat yang lain karena kerap disoraki penonton dengan makian kasar dan mendapat lemparan-lemparan aneka benda kecil baik sengaja maupun tak disengaja.

Sampai akhirnya Blegur yang berdiri di tong yang dipasang di depan panggung mendapat lemparan puntung rokok yang membara, amarahnya tak tertahankan lagi. Keterlaluan memang penonton yang menjentikkan puntungnya. Kulihat sendiri puntung itu melesat dan membentuk percikan bunga api pembakaran tembakau ketika menghantam baju doreng Blegur. Ia melompat turun dan segera berlari mengejar sang pelempar jahanam, dan tentu aku tak tahu bagaimana kelanjutan aksi kejar-kejaran tentara berbadan besar dengan tongkat rotan mengayun ayun melawan pemuda berandalan salah satu penonton. Aku sibuk sendiri menjaga keseimbangan dan menahan sakit benturan benturan yang terus dialami sepanjang panggung. Agak lelah, ada pada masanya aku menarik diri agak ke belakang. Sepultura masih ganas memainkan nomor-nomornya yang tentu tak bisa aku ingat satu persatu. Yang kuingat, aku mencoba meneriakkan satu judul Troops of Doom (dari album Schizophrenia, 1987) dengan harapan mereka membawakannya. Namun hingga akhir pertunjukan aku toh harus kecewa karena Sepultura rupanya tak memasukkan lagu itu ke dalam set listnya.

Apa yang kutulis di atas tentang konser Sepultura di Surabaya 1992 sudah barang tentu tak semuanya adalah bagian-bagian yang kuceritakan pada mereka para pemuda yang kala itu sedang menempuh perjalanan menuju GOR Tri Lomba Juang. Apa yang kutulis di atas pula bukan semua yang terjadi, karena hanya itu yang bisa kuingat yang barangkali pula dengan sedikit salah ingat. Tentu amat banyak fenomena yang luput dari indera pengamatanku. Pada intinya kukatakan pada mereka para pemuda itu bahwa apa yang mereka lakukan, pergi jauh ‘hanya untuk menonton pertunjukan musik’ adalah pula hal yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Generasi muda metal seperti mereka sekarang lebih beruntung bahwa komunitas underground sudah maju dan bisa menggelar event bahkan di gedung gedung kecil semacam balai desa, atau kecamatan.

Pada mereka yang lambat laun memandangku dengan tatapan takjub kukatakan bahwa seiring semakin bertambah umur dan kesibukan pekerjaan, aku menjadi tak lagi punya kesempatan dan bahkan nyali untuk datang ke show metal. Bahkan kenyataan bahwa aku pernah berada di tengah-tengah penonton panggung Sepultura adalah sesuatu yang sudah barang tentu kerap aku tak percayai, dan mungkin takkan lagi terulang dalam perjalanan hidupku ke depan. Pada mereka kukatakan, bahwa show Sepultura, meski sebuah show pertunjukan musik yang keras dan brutal, toh nyatanya tak menghasilkan korban nyawa satu orangpun. Ini amat berlainan dengan konser sejumlah band ‘metal’ alias mellow total di tahun 2000an yang justeru kerap menelan nyawa manusia. Aku, dan juga para anak muda berkaus hitam itu sepakat, bahwa bukan jenis musik yang menyebabkan petaka dalam sebuah event musik, namun semata soal teknis yang berkaitan dengan kapasitas gedung dan juga kesiapan dan keseriusan organizer dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Show Sepultura di Surabaya yang kutonton manakala umurku baru beberapa bulan menginjak 17 tahun lebih dari 17 tahun berlalu dari ketika tulisan ini kubuat mencatatkan diri sebagai pertunjukan metal pertama bertaraf internasional di tanah air, suatu show metal yang menuai suskses teramat besar yang berlangsung relatif tertib dan aman. Tak ada kerusakan, tak ada nyawa melayang sia-sia. Apa yang dicatat dalam show ini akan selalu menjadi kontra argumen abadi thesis yang menyatakan bahwa konser metal selalu rawan dengan kekerasan dan kerusuhan. (Manunggal K. Wardaya)

Keterangan foto: Igor Cavalera (drums), foto oleh: Firdaus F (HAI Magazine)


Tampilkan posting dengan label Kubur Masal. Tampilkan semua posting
Senin, 18 Januari 2010
KUBUR MASAL - Kubur Ini Istanaku (EP) 2005


Hohohoho.. Kubur Masal datang lagi dengan album EP "Kubur ini Istanaku" hmmmm bang Eman dan para penjahat yang merupakan anggota ganknya nampaknya tak ada matinya untuk eksis di dunia underground pada umumnya dan dunia permetalan tanah air khususnya

Dengan album yang lebih anyar, mereka masih tetep bertemakan marah pada sosial dan politik.. hehehe ya tau ndiri lah gimana keadaan sosial politik di Indonesia... n tentunya gak dibahas di sesi ini. Lol

Sebagaimana album sebelumnya..menurut kabar bang Eman Diva si dewa mabok yang di posisi vokal atau alias yang growly di band ini, album ini dibuat dirumah salah satu kawanan penjahat dari medan ini (mungkin suatu misi rahasia) akhirnya di kerjakan dengan terselubung... wehehehehehe ..... pasnya di kamarnya... busyeeet dengan peralatan yang minimalis banget ini (menurut saya).... tapi tak lupa peran kawan setia.. sang alkohol 666%. buktinya waktu garap album ini, atau waktu kegiatan rekaman berlangsung, mereka dalam keadaan mabuk... hehehehehe

Album ini yang berjudul Kubur ini istanaku yang juga merupakan track ke-6 ini berinspirasi pada pengucapan selamat tinggal pada alat-alat musik nya! wah... bahaya ini, jadi gimana dung nantinya kubur masal???

Tenang brotha... di tahun 2010 ini mereka berencana ngeluarin album kompiliasi... tentunya ya tetep dijalur yang dihidayahkan pada mereka... yup... benar perkiraan ente, jalur METAL

Ngomong ngomong soal isi album EP ini, saya sempat terkaget, masalahnya apa, menurut informasi kubur masal ini genrenya adalah Death Metal, tapi setelah intro yang berisi instrumen ngeri disusul dengan irama progresive gothic/Melodic Death..

Loh ini album kompilasikah? pikirku!!! hehehehe ternyata masih tetap Kubur Masal.... yup dengan judul surga mimpi mereka membawakan lagu yang beraliran Prog. Gothic/Melodic Death.. yang sempat membuat aku terheran.. padahal album sebelumnya (Historical Of Killing field (EP)) di tahun 2002 sangat sadis, tapi dengan track ke-2 ini hmmmmm anggun banget..., yang paling berkesan di track ke-2 ini adalah pas pada menit ke-dua, suara orgennya mirip dengan yang da di pilem-pilem setan... wih ngeri and horror deh, tapi gak lupa ma harmonisasi permainan alat lain... dan benar-benar mantep, pa lagi mereka pada dalam keadaan mabok..hehehhe menyesal kalo gak dengar...!!! ini karya anak bangsa kawan..!!! eh ya di track ini bang Eman Diva juga memakai clean Voice uey.... jadi aroma gothicnya gak lepas...meskipun dalam awal-awal dia growl-growl

setelah di timang-timang dalam lantunan gothic... lalu diam sebentar, yah for few second lah... lalu di kagetkan drum and gitar yang mengamuk-ngamuk serta growlnya bang Eman...wih cadas lagi bro... kembali dihajar dengan death metalnya yang berjudul MUTILASI, track yang mantap dan sangat menggoda untuk melakukan moching-moching, headbang.
Masih Mabuk bang??? hehehehehehe... nampaknya begitu marah mereka pas lagi membawakan lagu ini, meledak-ledak emosinya ingin memutilasi para pendengar... jadi disarankan untuk hati-hati pas lagi denger ini..hahahahaha kemarahan kubur masal yang mengerikan, keringat bercucuran, darah-darah muncrat tak peduli.. wah-wah... sangat berbahaya lagi indahnya lagu death metal ini.. lagu ini berdurasi kurang lebih 2 menit 9 detik... yang akan menghantam tanpa ampun...

Masih dengan keadaan marah, mereka berjalan dan menghajar melantunkan track berikutnya, yaitu track ke-4, "EVOLUSI TANPA JIWA" diawali dengan drum menghujam dengan tanpa ampun lalu di dibarengi dengan sayatan guitar yang rumit nan berisi... wah nampaknya kali ini mereka tetep dalam keadaan marah...Vokalnya juga menggunakan growlynya hmmmmm sangat mengerikan dan patut diacungi jempol.. terror-terror dan teriakan ketidak puasan mereka terhadap monotonnya situasi sosial, wah-wah
gitar yang menyalak-nyalak nan tak berbelas ampun di tack ini... sangat nikmat...hahahaha

selang beberapa detik kemudian, hehehehe tentunya dalam ayunan manja death metal membelai dan memenuhi suara dengan track ke-5 "SISTEMASI OTAK BUSUK" dan bener-bener ingin nambah lagi kalo lagu ini berkahir, karena kekejaman para dewa mabuk dari medan ini sangat terasa... hantaman-hantaman drum yang merusak otak serta sayatan guitarnya begitu ciamik.. dan disarankan untuk hati-hati dan waspada bila ternyata kubur masal nongol hahahahaha... tuh bau alkoholnya saja keliatan bener di track ini,
bang Eman-bang Eman... hehehehe cheeerrsss

Musik Death Metal adalah musik yang keindahannya sangat kita akui, hal ini tidak lepas dari berbagai organ... dari manusianya dan alatnya... terus apa jadinya seandainya dibumi ini tidak ada alat untuk memainkan death metal... sangat menyedihkan....
di track ini adalah suatu track yang penuh gambaran memori alat-alat bang eman, bang Eman mengatakan bahwa dalam track yang merupakan judul album ini adalah track untuk mengenang pelepasan alat musik mereka, mereka menjual alat musik dengan alasan tertentu...
by the way silakan dinikmati track "Kubur ini Istanaku" kenangan kepergian alat musick mereka...

setelah mengenang dalam kesengsaraan.. dan kepergian, mereka, begundal dari medan ini masih membawakan track Phobia.... yang diawali dengan serangan drum lalu disambut dengan vokal bersamaan guitar yang menggambarkan luapan-luapan alkohol mereka... hmmmmm mantaaaaaapppp
yah hasilnya bisa kalian nilai sendiri karya para penjahat dari medan ini... hati-hati... diperlukan mental yang kuat, niatan yang kejam serta pandangan yang bengis tuk menikmatinya....

setelah phobia, yaitu penutup... Outro, wah... bener-bener anehnya album ini, setelah terbawa dalam alunan kejam dan juga tanpa mapun serta mengiris menyiksa mereka dengan irama melodic death yang menyeramkan .... menyanyikan sayonara atau penutup di album EP ini


hehehehe sekedar info, di tahun 2010, kubur masal bakar meneror dalam album kompilasi yang melibatkan beberapa bandit-bandit di Indonesia ini ... di tunggu ya bro..!!!! salam \m/



Recommanded 666%